Sekarang, informasi bergerak dengan sangat cepat. Hanya dalah hitungan jam, sebuah postingan bisa viral dengan mendapat ribuan komentar dan membentuk persepsi public secara massif. Salah satu cara yang sering di gunakan, baik yang di sadari atau tidak adalah menyajikan informasi dari satu sudut pandang saja. Meskipun terlihat sederhana, teknik ini bisa menjadi alat yang sangat kuat untuk membentuk opini orang dan secara cepat memengaruhi pihak lawan.
Apa Itu Framing Satu Sisi?
Framing satu sisi merupakan cara membingkai suatu informasi secara selektif, dengan menyajikan fakta atau narasi yang mendukung satu sisi. Perspektif lain, meskipun valid akan di abaikan ataupun di sembunyikan. Akibatnya, orang yang menelan informasi ini hanya mendapat gambaran tidak lengkap dan cenderung memihak penginformasi yang lebih dulu. Contoh sederhananya:
- Menampilkan potongan video pendek tanpa penjelasan tambahan.
- Menekankan kesalahan seseorang tanpa memunculkan alasan atau keadaan sebenarnya.
- Menyusun narasi agar pihak tertentu terlihat buruk meski fakta tidak sepenuhnya demikian.
Bagaimana Framing Satu Sisi Menjatuhkan Lawan Bicara?
Teknik framing ini dapat membuat seseorang terlihat bersalah, jahat, ataupun tidak kompeten. Cara kerjanya biasanya seperti ini:
- Mengambil bagian yang paling menguntungkan bagi yang membuat framing.
Contohnya, Ketika sebuah konten yang menampilkan seseorang sedang marah besar, tetapi tidak memperlihatkan alasannya untuk marah. - Menyajikannya dengan narasi yang memojokkan.
Caption di buat sedemikian rupa agar penonton langsung memihak sisi yang di unggulkan. - Penyebaran yang cepat.
Bisa melalui clipping, repost, atau dibantu komunitas pendukung. - Membiarkan publik “menghakimi”
Komentar, reaksi, dan pembagian yang berlebihan memperkuat dampak negatif. - Menghasilkan gelombang stigma.
Target di serang, di rendahkan, dan di nilai buruk tanpa kesempatan membela diri.
Dalam hitungan jam, seseorang bisa kehilangan kepercayaan publik hanya karena cerita satu sisi yang viral.
Alasan Harus Tetap Waspada
Framing satu sisi di media sosial memiliki kekuatan besar untuk membentuk satu opini dengan cepat, makanya hal ini juga dapat merusak ekosistem informasi. Jika di biarkan terus-menerus, kebiasaan “potong memotong” ini membuat public kehilangan kepercayaan terhadap informasi yang beredar.
Dalam banyak kasus, teknik ini digunakan untuk menjatuhkan lawan bicara melalui narasi yang tidak utuh dan memihak. Sebagai pengguna media sosial, kita perlu lebih kritis dalam menerima informasi dan berhati-hati agar tidak menjadi bagian dari penyebaran framing yang merugikan orang lain.
Baca Juga : Dampak Beredarnya Isu Negatif Di Internet





